Entri Populer

Minggu, 05 Juni 2011

Alexander Rybak

Alexander Rybak – A musical missionary.

Alexander Rybak’s phenomenal journey began at the tender age of five.  His little family of three had moved from Belarus and settled at Nesodden, a short ferry trip from Norway’s capital Oslo. Natasja and Igor, his parents, were both professionally trained musicians and teaching their son the violin and piano was the most natural thing in the world. Alexander practiced like a top athlete, his endurance being quite rare in a society preoccupied with other leisure activities and sports. Soon it became apparent that he had to choose between his two instruments and he decided to go with the violin (he still plays the piano, but just as a hobby). Alexander continued to practice, as well as playing concerts with his family and other musical friends. At a very young age he debuted on the stage and many noticed Alexander’s talents. He enrolled at The Barrat Due Academy when he was 10 and suddenly he met other young people with the same passion for music and realized that he was not the odd one out.
alex2
From the very beginning Alexander studied the great masters, but was also preoccupied with thinking «outside the box». He began playing jazz and popular standards as well as pop hits. He had composed music since he was a young boy because his father Igor had taught him that one day he could earn money from it. His violin took him to many far flung places including Russia, The United States and China, while he was a member of different orchestras. Born with a competitive streak, Alexander soon joined Pop Idol Norway, but it proved an unsuitable platform for his unique talent. A year later he joined another talent competition «Kjempesjansen» with a broader approach to music and use of instruments. With his own composition “Foolin’” Alexander won the hearts of the Norwegian nation!
A director at one of Oslo’s biggest theatres cast Alexander in a production of “Fiddler on the Roof”. His performances lead to a multitude of rave reviews and he was awarded a Hedda, the highest acclamation a stage actor can achieve in Norway. In between all his engagements, Alexander also found time to travel like fiddlers did back in the day, playing for food and lodging in some of the valleys and islands of Norway. On one of these trips, he came up with an idea to write a song called “Fairytale” and when the Norwegian Broadcasting Corporation contacted him one day in late 2008, he had a plan. This was just the beginning…
Alexander Rybak went on to win the 54th Eurovision Song Contest in Moscow, Russia in May 2009 with a landslide victory. He finished with a grand total of 387 points, breaking the previous record of 292 points scored by Lordi in 2006 and scoring 169 points more than runner up from Iceland. Alexander sang “Fairytale”, the song he wrote walking in the mountains on the Norwegian west coast, a song inspired by Norwegian folk music. He performed together with the modern folk dance company Frikar Dance Company.
alex1
“Fairytale”, became a major hit in Europe and was # 1 on most European I-tunes charts the following week. It also reached top 3 on the European chart, #1 in Belgium, Denmark, Greece, Iceland, Norway, Sweden and Russia and #2 in Ireland, Finland and the Netherlands and Alexander’s performance from the Eurovision Song Contest had more than 10million hits on YouTube within a few weeks.
Alexander Rybak released his debut album “Fairytales” shortly after, and by August 2009 the album has been released in more than 25 European countries including Scandinavia, Russia/CIS, Germany, Austria, Switzerland, Benelux, France and Greece. The “Fairytales” album has sold nearly half a million copies to date across Europe. The album has been top 3 since it was released in Norway, peaking at #1 for a number of weeks, reaching triple platinum within two months. It has also sold to Gold in Sweden and Double Platinum in Russia, where Alexander in mid August 2009 was #1 on the Russian Billboard charts.
The second single from “Fairytales” released in Norway was “Funny Little World”, which entered the Norwegian charts at #2 only beaten by Fairytale at #1. This is the first time in history that a Norwegian artist has had the two top chart positions in Norway.
Since the Eurovision Alexander Rybak has toured Europe playing over 100 shows for more than 300.000 people, He has also done major TV-shows in Germany, Greece, Netherlands, Belgium, Russia, Ukraine, Belarus, Sweden, Finland, Denmark and Norway, including the Nobel Peace Concert -being exposed for millions of viewers worldwide.
In December 2009 a documentary about his year since the Eurovision win in Moscow was released in Norway. “Fairytale The Movie” takes Alexander around Europe and shows his life as a budding pop star.
Alexander Rybak is currently working on a new album that will be released summer 2010.

Chef Juna yang penuh karisma

Chef Juna (Juri Master Chef Indonesia)

null
Siapa sih yang nggak kenal sama Chef Juna yang galak, sangar, dan kejam dalam berkomentar? Yang nonton perdana Master Chef Indonesia 01 Mei 2011 kemarin pasti tau. Pada artikel ini akan aku ceritakan perjalanan karir dan masa mudanya.
null
Profil
Junior Rorimpandey namanya. Chef asal Manado yang lahir pada 20 Juli 1975 ini, kurang begitu hot dibahas di Indonesia, karena Chef ini lebih terkenal di luar negeri. Hm..aku yakin setelah adanya Master Chef Indonesia, Chef Juna akan semakin dikenal banyak orang.
Banyak yang mengira Chef Juna ini bukan siapa-siapa. Setelah googling tentang Chef Juna, yang kulihat dari forum-forum, banyak yang kurang suka dengan Chef ini. Rata-rata berkomentar, “Sangar amat komentarnya..kejam”, “jahat banget tuh orang”, “dia bikin acara makin tegang aja”, “ah kayak dia bisa masak aja”, “masa komentarnya nggak bermutu gitu sih”, “komentar yang membangun dikit kek..masa kasar gitu ngomongnya”.
Waktu aku liat Chef Juna memberi contoh memotong bawang bombay di Master Chef Indonesia, aku tau kalau ia punya kemampuan masak yang cukup tinggi. Dari cara memegang pisau dan kecepatan mengiris bombay. Terutama waktu ia membuang paprika dan garnish pada hidangan yang dimasak salah satu peserta (lupa namanya). Kenapa? Jelas aja karena paprika nggak akan dihidangkan mentah-mentah di piring. Di luar negeri, walaupun hanya dijadikan hiasan, yang tersaji di sebuah piring itu harus bisa dimakan. Beda dengan Indonesia, yang rata-rata hiasannya menggunakan sayuran mentah dan itu hanya hiasan, bukan untuk dimakan.
Sumber yang kudapat menggunakan bahasa inggris dan disini akan aku ceritakan ulang dengan gaya tulisanku sendiri secara detail.
Karir
Profesi Chef Juna terjadi secara nggak sengaja. Pada tahun 1997, ia pergi ke Amerika Serikat (Brownsville, Texas) untuk sekolah penerbangan. Chef Juna telah mendapat lisensi pilot, tapi ditengah mengambil lisensi komersial, sekolah penerbangannya bangkrut. Akhirnya ia pergi ke Houston untuk lanjutkan pelatihan. Awal 1998 disaat Indonesia sedang dilanda krimon (krisis ekonomi), ibunya nggak bisa membantu keuangannya di luar negeri, dan akhirnya ia harus mencari kerja walau secara ilegal (belum mendapatkan ijin kerja).
Berbagai pekerjaan yang dicoba Chef Juna, akhirnya ia kerja di restoran tradisional Jepang sebagai waiter (pelayan). Setelah 2 minggu, master sushi menawarkannya untuk jadi muridnya, Chef Juna terima tawaran itu. Ia akhirnya mulai dari dasar dan dilatih sangat keras. Pemilik restoran itu kagum dengan kinerjanya dan mensponsori Chef Juna untuk mendapatkan Permanent Resident (ijin tinggal).
Pada tahun 2002, Chef Juna mengambil alih sebagai head chef (kepala koki) di restoran karena sushi master yang melatih Chef Juna ini pindah ke restoran lain. Di tahun 2003, ia pindah kerja ke restoran sushi nomor satu di Houston yang bernama Uptown Sushi. Setelah beberapa bulan, ia menjadi Executive Chef disana. Masuk ke tahun 2004, Chef Juna mulai jenuh dengan masakan Jepang, dan akhirnya ia pindah ke restoran Perancis, The French Laundry yang dikenal sebagai restoran yang menerapkan standar tinggi. Ia mulai dari awal lagi. Lalu, ia juga mencari pekerjaan di tempat lain agar dapat belajar lebih banyak.
Di French Laundry, ada hukuman bagi yang melakukan kesalahan walau kesalahan sederhana. Mereka dilatih dengan baik dan disiplin yang diterapkan seperti militer. Disana Chef Juna belajar banyak teknik, mengontrol protein pada makanan, dan menciptakan makanan yang dihias cantik dan sangat enak. Nggak heran waktu Chef Juna menilai peserta Master Chef Indonesia sangat galak. Galaknya pasti keluar kalau liat makanan yang dihias berantakan dan rasanya hambar. Wajar, koki ganteng tapi sangar ini berpengalaman.
null
“Memasak adalah suatu yang anda cintai ketika anda berada di dapur, dan itu bukan hanya sekedar pekerjaan. Itu adalah sebuah gairah dan pekerjaan yang sulit. Saya suka memasak karena saya menilai masak sebagai seni. Ketika saya membuat hidangan baru, itu seperti telah selesai sebuah proyek seni. Berjuang untuk kesempurnaan membuat masakan yang lezat dengan bahan berbagai warna dan terlihat cantik di piring. Setiap malam saya memasak di dapur, terutama malam yang super sibuk, saya merasa bahwa prestasi saya tercapai karena saya membuat pelanggan kenyang, senang dan memberikan mereka pengalaman bersantap yang hebat. Saya juga suka suasana dapur yang sibuk, suara panci panas saat bahan masakan dimasukkan, suara peralatan masak, orang-orang berkomunikasi satu sama lain tentang apa yang mereka lakukan, semua itu seperti musik di telinga saya”, kata Chef Juna yang sekarang menjadi Executive Chef di restoran Jack Rabbit Jakarta.
null
Mengagumkan! Nggak nyangka kan kalau Chef Juna ini koki yang hebat? Padahal dulunya Chef Juna ini naik motor Harley loh.
Masa muda
Waktu umur 17 tahun, Chef Juna ini termasuk anak berandalan, ia buat sebuah geng yang bernama Bad Bones. Dengan mengendarai Harley, mereka ngebut dan nggak peduli kemanapun mereka pergi.
“Saya pernah kuliah teknik perminyakan selama 3,5 tahun di Indonesia, tapi nggak selesai karena saya terlalu nakal. Akhirnya saya memutuskan untuk membenahi hidup, berubah, dan pindah ke Amerika. Saya sampai menjual motor kesayangan untuk biaya sekolah di sana”
Diculik, disiksa, overdosis dan hampir ditembak di kepala udah pernah dirasakan Chef Juna. Merokok dan terjerumus dalam narkoba juga pernah. Tapi ia berubah karena ia punya pemikiran berbeda.
Di kedua lengan Chef Juna ini bertato. Tato itu dibuat waktu Chef Juna umur 15 di Bali, dengan menggunakan mesin buatan sendiri yang menggunakan jarum jahit.
Cinta
Menurut media, Chef Juna ini berpacaran dengan Aline Tumbuan atau Caroline Ingrid Adita.
null
Kabarnya sih udah berpacaran 1 tahun.

Agatha Christie

Agatha Christie (1890-1976) was born Agatha May Clarissa Miller in Devon, England in 1890, the youngest of three children in a conservative, well-to-do family.


Agatha Christie bio picture photo
Agatha Christie
Taught at home by a governess and tutors, as a child Agatha Christie never attended school. She became adept at creating games to keep herself occupied at a very young age. A shy child, unable to adequately express her feelings, she first turned to music as a means of expression and, later in life, to writing.
In 1914, at the age of 24, she married Archie Christie, a World War I fighter pilot. While he was off at war, she worked as a nurse. It was while working in a hospital during the war that Christie first came up with the idea of writing a detective novel. Although it was completed in a year, it wasn't published until 1920, five years later.
"The Mysterious Affair at Styles" gave the world the inimitable Hercule Poirot, a retired Belgian police officer who was to become one of the most enduring characters in all of fiction. With his waxed moustache and his "little grey cells," he was "meticulous, a tidy little man, always neat and orderly, with a slight flavour of absurdity about him." (The New Bedside Christie Companion...)
Christie wrote more than 30 novels featuring Poirot. Among the most popular were "The Murder of Roger Ackroyd" (1926), "Murder on the Orient Express" (1934), and "Death on the Nile" (1937).
In 1926, Archie asked for a divorce, having fallen in love with another woman. Agatha, already upset by the recent death of her mother, disappeared. All of England became wrapped up in the case of the now famous missing writer. She was found three weeks later in a small hotel, explaining to police that she had lost her memory. Thereafter, it was never again mentioned or elaborated upon by Christie.
She later found happiness with her marriage in 1930 to Max Mallowan, a young archaeologist who she met on a trip to Mesopotamia.
Another of Christie's most well-known and beloved characters was introduced in "Murder at the Vicarage" in 1930. Miss Jane Marple, an elderly spinster in the quaint English village of St. Mary Mead, solved all manner of mysteries with intense concentration and intuition. Featured in 12 novels, Miss Marple exemplified the cozy style, a form of mystery fiction that became popular in, and ultimately defined, the Golden Age of fiction in England during the 1920s and '30s.
Christie ultimately became the acknowledged Queen of the Golden Age. In all, she wrote over 66 novels, numerous short stories and screenplays, and a series of romantic novels using the pen name Mary Westmacott. Several of her works were made into successful feature films, the most notable being Murder on the Orient Express (1974). Her work has been translated into more than a hundred languages. In short, she is the single most popular mystery writer of all time.
In 1971 she was awarded the high honor of becoming a Dame of the British Empire.

Freddie Highmore

Date of Birth
14 February 1992, London, England, UK

Birth Name
Alfred Thomas Highmore

Height
5' 10" (1.78 m)
Trivia
Johnny Depp requested him to play Charlie Bucket in Charlie and the Chocolate Factory (2005).
Finding Neverland (2004) director Marc Forster decided to schedule one of Highmore's toughest scenes (where he tears up a book and demolishes a playhouse) on his second day of filming, deliberately so other cast members could see the child act and change their attitude towards working with him.
Is a soccer fan.
Has said he is not planning to continue acting as an adult.
His real father, Edward Highmore, played his father in Jack and the Beanstalk: The Real Story (2001) (TV).
During the shooting of Finding Neverland (2004), his favorite action was the demolition of the playhouse.
Said it was hard to concentrate during filming of the final scene of Finding Neverland (2004) with Johnny Depp in London because fans were standing off-camera screaming "We love you Johnny!"
Won an Empire Award for Best Newcomer for his role in Finding Neverland (2004).
His real brother, Bertie Highmore, played his brother in Women Talking Dirty (1999).
Plays the clarinet and enjoys soccer and video games. Learning to play the guitar.
Favourite book is "The Catcher in the Rye" by J.D. Salinger.
Learns French.
Began acting in small parts on TV shows when he was 7.
Actress Helena Bonham Carter has played his mother three times: in his first film Women Talking Dirty (1999), his most famous role Charlie and the Chocolate Factory (2005), and (as his stepmother) in the BBC film Toast (2010/I).
His mother Sue Latimer is his agent. One of her clients is Imelda Staunton. She also represents his friend Daniel Radcliffe.
Was originally supposed to star in December Boys (2007) but had to pull out because his grandmother was sick and he couldn't go to Australia to film.
His favorite actor is Johnny Depp, his co-star in Finding Neverland (2004) and Charlie and the Chocolate Factory (2005).
The voice of 'Pantalaimon' in The Golden Compass (2007) was originally recorded by an adult actor but the filmmakers decided it made the character sound too old, so they cast Freddie instead. 'Pantalaimon' was originally going to be voiced by his co-star from Charlie and the Chocolate Factory (2005), Adam Godley.
Is fluent in French.
Has played the son of two Ophelias: Helena Bonham Carter in Charlie and the Chocolate Factory (2005) and Kate Winslet in Finding Neverland (2004).
Freddie has achieved 10 A* grades on his GCSEs (English language, English literature, maths, Spanish, French, Latin, geography, biology, chemistry and physics).

Personal Quotes
When I left the set of Finding Neverland (2004), I was quite upset, because I thought I wouldn't see Johnny again. And Charlie wants to go back to the chocolate factory. We both got our wishes.
Well, you just sort of think about what the character's thinking, and then you're in the character.
I'm not sure what I would like to do when I'm older. I might want to travel and see the world. That would be quite fun.
I try to stay a normal boy as much as possible. I play soccer on the weekend with my friend. I play video games, but not as much as Mike Teavee [the video-game addict in Charlie and the Chocolate Factory (2005)]. I quite enjoy soccer games. I support the team called Arsenal. They just won the [English Football Association] Cup.
I try and stay a normal kid as much as possible. At the weekend I play soccer with my friends.
[Talking about being treated like an adult] That was really important for me, although I think I am a bit more mature than some kids my age because I've spent more time with adults. And I haven't grown my hair over my eyes or anything.
It's nice to pick up the guitar now and again and play back the songs and be reminded of the film -- but if you gave me any other songs to play, I wouldn't be very good at them.
[Talking about his dressing room demands] Because I'm a spoiled little brat, I absolutely always insist on a table and chair and lighting. This February I'm even going to demand heating.
Scary is good. Kids like going to a movie and being really scared rather than fake scared.
[On celebrity] As long as you don't stand on the corner and wave your arms about, people don't notice you too much.

Senin, 23 Mei 2011

Bersangka Baik Dengan Allah S.W.T

Bersangka Baik Dengan Allah S.W.T.

Assalamualaikum w.b.t.

Salam sejahtera,salam ceria buat pengunjung blog Menimba Ilmu.

DALAM hidup ini Allah sentiasa menguji kita. Ujian Allah pelbagai dan orang yang diuji Allah juga pelbagai. Ada yang diuji Allah dengan musibah seperti kematian orang disayangi, kebakaran, kemalangan, kehilangan, bencana alam dan yang selalu diuji Allah kepada kita ialah dengan mendatangkan sakit.
Tidak seorang pun daripada kita yang hidup di dunia ini terlepas daripada menerima ujian Allah. Yang membezakannya hanya bentuk ujian itu. Ada yang ringan dan ada yang berat ujiannya.

Walau apa saja yang kita alami di dunia ini, ia adalah sunnatullah yang telah ditetapkan menurut hikmah-Nya sebagai cubaan dan ujian. Dalam al-Quran banyak disebut mengenai ujian Allah ini. Dengan kata lain, manusia sentiasa diuji oleh Allah dengan pelbagai bentuk sama ada manusia suka atau tidak Allah tetap mengujinya.

Al-Quran dalam surah Al-Anbiya ayat 35 Allah berfirman yang bermaksud: “Tiap-tiap diri akan merasai mati dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cubaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” Dalam surah Al-A’raf ayat 168 pula Allah berfirman yang bermaksud: “Dan, Kami cuba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” Melihat dua firman Allah di atas, jelas bahawa pelbagai penyakit yang menimpa umat Islam itu adalah sebahagian daripada cubaan ataupun ujian Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. Sesungguhnya cubaan dan ujian itu adalah sunnatullah yang telah ditetapkan berdasarkan rahmat dan hikmah-Nya, di mana di dalamnya terkandung kebaikan dan rahmat bagi hamba-Nya.

Harus kita ingat bahawa Allah memberikan hidayah dan taufik kepada setiap hamba-Nya dengan jalan yang berbeza-beza. Salah satunya dengan mendatangkan musibah sakit kepada hamba-Nya.

Kita hendaklah sentiasa bersangka baik dengan Allah terutama ketika kita ditimpa musibah sakit atau musibah lain. Ujian sakit yang diberikan-Nya itu tanda kasih sayang-Nya dari Khalik kepada makhluk-Nya. Allah selalu mencintai hamba-Nya yang sabar, ikhlas dan reda. Dan sebagai hamba-Nya yang beriman, kita hendaklah selalu memuji Allah yang tak pernah putus-putus memberi rahmat kepada kita hatta ketika kita sakit.

Sehubungan itu, Rasulullah SAW bersabda yang maksudnya: “Sesungguhnya, besarnya pahala sesuai dengan besarnya cubaan. Sesungguhnya, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang reda dengan musibah itu maka baginya keredaan Allah. Dan barang siapa yang marah (tidak reda) dengan musibah berkenaan, maka baginya kemurkaan Allah.” (Hadis riwayat Tirmidzi) Sabda Rasulullah lagi yang maksudnya: “Setiap sesuatu itu mempunyai hakikat dan tidaklah seorang hamba mencapai hakikat iman sehingga dia menyedari musibah yang menimpanya bukan untuk menyalahkannya dan kesalahan yang dilakukannya bukan sebab untuk ditimpakan musibah kepadanya.” Syuraih rahimahullah berkata: “Aku benar-benar ditimpa musibah. Namun aku memuji kerana empat perkara. Aku memuji kerana musibah itu, bukan yang paling kuat, kerana kau dianugerahkan kesabaran menghadapinya. Kerana aku diberi taufik untuk mengucapkan ‘Ina lillahi wa inna ilaihi raji’un’ sehingga aku boleh memohon pahala, dan kerana musibah itu tidak dijadikan pada agamaku.”

Sementara Al Ghazali rahimahullah pula berkata: “Setiap musibah dan penyakit harus digambarkan ada yang lebih besar lagi. Sebab ketetapan Allah tidak boleh dicegah. Sekiranya Allah melipat ganda dan menambahkannya apakah yang boleh menolaknya? Walaupun demikian, dia tetap harus bersyukur kerana hal ini bukan yang paling besar di dunia. Jadi, tidak seorang pun ditimpa musibah, melainkan dia harus melihat hal Allah yang boleh menimpakan musibah yang lebih besar lagi di dunia pun di akhirat.” Sebenarnya ada hikmah bagi orang mukmin bila ditimpa sakit kerana dalam sakit itu terkandung pahala dan keampunan serta sekali gus mengingatkan kepada kita akan kekuasaan dan kebesaran Allah. Dan darjat yang tinggi Allah berikan kepada mereka yang tabah dan sabar dalam menghadapi musibah sakit ini, dengan syarat pesakit tidak melupakan kewajipan solat lima waktu. Betapa pun sakit itu tidak membolehkan kita untuk berdiri atau bersuci, namun kita tidak boleh meninggalkannya hanya atas sebab itu.

Sesungguhnya solat adalah jalan terbaik mendekatkan diri kita dengan Allah, di mana hanya Dia saja tempat untuk kita mohon pertolongan bila ditimpa musibah. Hanya Allah saja yang boleh membantu dan memberikan pertolongan kepada kita.

Sabda Rasulullah yang bermaksud: “Solatlah di atas tanah selama kamu mampu. Jika tidak, cukup kamu memberi isyarat dengan menggerakkan badan dan lakukanlah sujudmu lebih rendah daripada rukukmu.” (Hadis riwayat Thabrani dan disahihkan oleh Al-Albani).

Sementara Allah berfirman dalam al-Quran yang maksudnya: “Bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (Surah At-Taqhaabun ayat 16) Sama ada berat atau ringan sakit yang kita alami, semuanya cubaan dan ujian Allah kepada kita. Tapi kita tidak perlu bersangka buruk terhadap Allah kerana Allah tidak menurunkan sesuatu penyakit itu tanpa ubatnya. Ertinya setiap penyakit yang ada di dunia ini ada ubatnya disediakan oleh Allah. Hanya mati saja tidak ada ubatnya.

Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata, Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Allah tidak menurunkan penyakit melainkan pasti menurunkan ubatnya.” (Hadis riwayat Al Bukhari) Selain ubat, doa juga penting untuk cepat menyembuhkan penyakit. Berdoa bererti memohon kepada Allah yang Maha Mengetahui penyakit yang kita deritai dan Dia yang Maha Berkuasa dapat menyembuhkannya. Bersungguh-sungguhlah berdoa kepada Allah. Firman Allah dalam al-Quran surah Al-Baqarah ayat 186 yang bermaksud: “Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) mengenai Aku, maka sesungguhnya Aku ini dekat. Aku mengabulkan permintaan orang yang berdoa, jika ia benar-benar memohon pada-Ku.”

Masalah Pendidikan di Indonesia



Peran Pendidikan dalam Pembangunan


Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia unuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bab ini akan mengkaji mengenai permasalahan pokok pendidikan, dan saling keterkaitan antara pokok tersbut, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya dan masalah-masalah aktual beserta cara penanggulangannya.

Apa jadinya bila pembangunan di Indonesia tidak dibarengi dengan pembangunan di bidang pendidikan?. Walaupun pembangunan fisiknya baik, tetapi apa gunanya bila moral bangsa terpuruk. Jika hal tersebut terjadi, bidang ekonomi akan bermasalah, karena tiap orang akan korupsi. Sehingga lambat laun akan datang hari dimana negara dan bangsa ini hancur. Oleh karena itu, untuk pencegahannya, pendidikan harus dijadikan salah satu prioritas dalam pembangunan negeri ini.

Pemerintah dan Solusi Permasalahan Pendidikan


Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU Pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi harus ditempuh langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan anggaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pinggiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global.

Kondisi ideal dalam bidang pendidikan di Indonesia adalah tiap anak bisa sekolah minimal hingga tingkat SMA tanpa membedakan status karena itulah hak mereka. Namun hal tersebut sangat sulit untuk direalisasikan pada saat ini. Oleh karena itu, setidaknya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan. Jika mencermati permasalahan di atas, terjadi sebuah ketidakadilan antara si kaya dan si miskin. Seolah sekolah hanya milik orang kaya saja sehingga orang yang kekurangan merasa minder untuk bersekolah dan bergaul dengan mereka. Ditambah lagi publikasi dari sekolah mengenai beasiswa sangatlah minim.

Sekolah-sekolah gratis di Indonesia seharusnya memiliki fasilitas yang memadai, staf pengajar yang berkompetensi, kurikulum yang tepat, dan memiliki sistem administrasi dan birokrasi yang baik dan tidak berbelit-belit. Akan tetapi, pada kenyataannya, sekolah-sekolah gratis adalah sekolah yang terdapat di daerah terpencil yang kumuh dan segala sesuatunya tidak dapat menunjang bangku persekolahan sehingga timbul pertanyaan ,”Benarkah sekolah tersebut gratis? Kalaupun iya, ya wajar karena sangat memprihatinkan.”

Penyelenggaraan Pendidikan yang Berkualitas


”Pendidikan bermutu itu mahal”. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.

Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang kadang berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”.

Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.
Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.

Privatisasi dan Swastanisasi Sektor Pendidikan


Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).

Dalam APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN (www.kau.or.id). Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.

Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.

Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.

Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Perancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.

Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk cuci tangan.***




Penulis : Muliani


Program Studi Biologi
Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Biologi
Universitas Negeri Bangka Belitung

IBNU SINA dokter pertama di dunia

IBNU SINA dokter pertama di dunia

 
IBNU SINA dokter pertama di dunia
beliau dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Beliau juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.
Berkas:AvicennaPersian.jpg
Karya Ibnu Sina, fisikawan terbesar Persia abad pertengahan , memainkan peranan penting pada Pembangunan kembali Eropa.
Ibnu Sina, Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina atau dalam tulisan arab : أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا) sering dilatinkan Ibnu Sina adalah seorang Persia, fisikawan, filosofis, dan ilmuwan yang lahir pada 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (kemudian Persia), dan meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran).
Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai “bapak kedokteran modern.” George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu.” pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, d**enal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).
Awal Kehidupan
Kehidupannyan d**enal lewat sumber – sumber berkuasa. Suatu autobiografi membahas tiga puluh tahun pertama kehidupannya, dan sisanya didokumentasikan oleh muridnya al-Juzajani, yang juga sekretarisnya dan temannya.
Ibnu Sina lahir pada tahun 370 (H) / 980 (M) di rumah ibunya Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia). Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang wilayah Afghanistan (dan juga Persia). Dia menginginkan putranya dididik dengan baik di Bukhara.
Meskipun secara tradisional dipengaruhi oleh cabang Islam Ismaili, pemikiran Ibnu Sina independen dengan memiliki kepintaran dan ingatan luar biasa, yang mengizinkannya menyusul para gurunya pada usia 14 tahun.
Ibn Sina dididik dibawah tanggung jawab seorang guru, dan kepandaiannya segera membuatnya menjadi kekaguman diantara para tetangganya; dia menampilkan suatu pengecualian sikap intellectual dan seorang anak yang luar biasa kepandaiannya / Child prodigy yang telah menghafal Al-Quran pada usia 5 tahun dan juga seorang ahli puisi Persia. Dari seorang pedagan sayur dia mempelajari aritmatika, dan dia memulai untuk belajar yang lain dari seorang sarjana yang memperoleh suatu mata pencaharian dari merawat orang sakit dan mengajar anak muda.
Meskipun bermasalah besar pada masalah – masalah metafisika dan pada beberapa tulisan Aristoteles. Sehingga, untuk satu setengah tahun berikutnya, dia juga mempelajari filosofi, dimana dia menghadapi banyak rintangan. pada beberapa penyelidikan yang membingungkan, dia akan meninggalkan buku – bukunya, mengambil air wudhu, lalu pergi ke masjid, dan terus sholat sampai hidayah menyelesaikan kesulitan – kesulitannya. Pada larut malam dia akan melanjutkan kegiatan belajarnya, menstimulasi perasaannya dengan kadangkala segelas susu kambing, dan meskipun dalam mimpinya masalah akan mengikutinya dan memberikan solusinya. Empat puluh kali, dikatakan, dia membaca Metaphysics dari Aristoteles, sampai kata – katanya tertulis dalam ingatannya; tetapi artinya tak d**enal, sampai suatu hari mereka menemukan pencerahan, dari uraian singkat oleh Farabi, yang dibelinya di suatu bookstall seharga tiga dirham. Yang sangat mengagumkan adalah kesenangannya pada penemuan, yang dibuat dengan bantuan yang dia harapkan hanya misteri, yang mempercepat untuk berterima kasih kepada Allah SWT, dan memberikan sedekah atas orang miskin.
Dia mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode – metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa “Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat – obat yang sesuai.” Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.
Pekerjaan pertamanya menjadi fisikawan untuk emir, yang diobatinya dari suatu penyakit yang berbahaya. Majikan Ibnu Sina memberinya hadiah atas hal tersebut dengan memberinya akses ke perpustakaan raja Samanids, pendukung pendidikan dan ilmu. Ketika perpustakaan dihancurkan oleh api tidak lama kemudian, musuh – musuh Ibnu Sina menuduh din oa yang membakarnya, dengan tujuan untuk menyembunyikan sumber pengetahuannya. Sementara itu, Ibnu Sina membantu ayahnya dalam pekerjaannya, tetapi tetap meluangkan waktu untuk menulis beberapa karya paling awalnya.
Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal.Samanid dynasty menuju keruntuhannya pada Desember 1004. Ibnu Sina menolak pemberian Mahmud of Ghazni, dan menuju kearah Barat ke Urgench di Uzbekistan modern, dimana vizier, dianggap sebagai teman seperguruan, memberinya gaji kecil bulanan. Tetapi gajinya kecil, sehingga Ibnu Sina mengembara dari satu tempat ke tempat lain melalui distrik Nishapur dan Merv ke perbatasan Khorasan, mencari suatu opening untuk bakat – bakatnya. Shams al-Ma’äli Qäbtis, sang dermawan pengatur Dailam, seorang penyair dan sarjana, yang mana Ibn Sina mengharapkan menemukan tempat berlindung, dimana sekitar tahun (1052) meninggal dibunuh oleh pasukannya yang memberontak. Ibnu Sina sendiri pada saat itu terkena penyakit yang sangat parah. Akhirnya, di Gorgan, dekat Laut Kaspi, Ibnu Sina bertamu dengan seorang teman, yang membeli sebuah ruman didekat rumahnya sendiri idmana Ibnu Sina belajar logika dan astronomi. Beberapa dari buku panduan Ibnu Sina ditulis untuk orang ini ; dan permulaan dari buku Canon of Medicine juga dikerjakan sewaktu dia tinggal di Hyrcania.
sumber: kaskus.us

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys